Friday
Kuk
Kuk adalah sebuah alat yang ditempatkan pada tengkuk leher kita untuk mengangkat atau menarik beban. Pada Perjanjian Lama, kita diibaratkan memakai kuk ini sehingga kita seperti seorang hamba.Dan karena kuk ini berisi dosa, maka kita dianggap sebagai hamba dosa. Tetapi terpujilah Tuhan yang dengan kekuatanNya mematahkan kuk ini, kita tidak lagi menjadi hamba dosa. Karena dosa sangatlah dibenci oleh Tuhan, dan hal inipun begitu tertanam di dalam hati kita semua orang yang percaya.
Sehingga kemudian kita mulai mengisi kehidupan kekristenan kita dengan firman Tuhan, dan kita pun merasa jijik dengan dosa. Hal ini sangatlah baik. Namun ada hal lain juga yang tidak bisa kita pungkiri yaitu kita masih merasa sulit untuk selalu melakukan firman Tuhan. Bahkan kita seperti sedang kembali memikul kuk yang berat, hanya kali ini bukan berisi dosa, tetapi firman Tuhan.
JC mengajak kita untuk belajar dariNya dalam memikul kuk yang berisi firman Tuhan ini, dengan berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan” (Matius 11:29). Namun kita tidak bisa belajar apa-apa dari perikop ini, karena kita tidak menemukan contoh dari apa yang JC katakan.
Marilah kita mencari teladan JC dalam memikul kuk yang berisi firman Tuhan ini. Tapi betapa kagetnya kita, saat kita sampai pada peristiwa JC berdoa di taman Getsemani, dimana JC mencoba meminta agar cawan penderitaan dilalukan daripadaNya. Mungkin dalam hati anda dan juga saya berpikir, mengapa JC berani menyuruh kita belajar dariNya, sementara Dia sendiri meminta agar tidak memikul kuk yang berisi firman Tuhan? Bukankah JC sebelum-sebelumnya begitu tegas membawa perintah Bapa?Ya begitu banyak pertanyaan di kepala kita, mungkin kita mulai berani berkata sungguh tidak pantas orang Kristen tidak mau melakukan firman Tuhan. Itu dosa!
Tanpa sadar, sebenarnya ketika kita sedang memikul kuk yang berisi firman Tuhan, kita itu seperti sedang memikul kuk yang berisi dosa. Kita begitu berbeban berat, karena kita begitu takut kalo sampai kita lepaskan kuk yang berisi firman Tuhan ini. Kita takut Tuhan akan marah dan tidak terbayangkan akibatnya. Kita memandang Tuhan sama seperti Tuhan yang marah besar terhadap dosa. Bukankah kuk yang kita pikul berisi firman Tuhan? Bukan dosa.
Ingat JC berkata belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Bukan karena Aku penuh kemarahan ataupun kemurkaan. Itulah sebabnya ketika JC merasa tidak kuat dan mau mati rasanya (peristiwa Getsemani) JC pun memohon agar dilalukan dari cawan penderitaan. Ini bukan soal tidak pantas, tapi ini berbicara Tuhan yang tidak sama saat marah terhadap dosa, tapi Tuhan yang lemah lembut yang mau mendengarkan keluhan dari yang memikul kuk yang berisi firman Tuhan.
JC kemudian berdoa terus melampiaskan semuanya, hingga berkeringat darah. Dan setelah berdoa, entah berapa lama kemudian, JC bangkit dan penuh keyakinan mau memikul kuk yang berisi firman Tuhan. Saya tidak tahu apa yang terjadi, dalam Lukas 22:43 disebutkan malaikat datang untuk memberikan kekuatan. Tapi yang jelas JC kemudian seperti memperoleh apa yang dikatakan sebagai “jiwamu akan mendapatkan kelegaan”. Matius 11:30, sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanku pun ringan.
Belajarlah dari JC, sosok yang kita anggap sempurna, namun Dia tidak segan-segan berkata tidak bisa jika memang tidak bisa kepada Bapa. Apalagi kita yang tidak sempurna. Matius 11:28 Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu
| 9:32:00 AM
Thursday
Renovasi
Suara bising seperti tak pernah berhenti
Martil besi besar dibenturkan ke dinding
Bukan untuk merobohkan, apalagi menyakiti
Sekedar mencari ruang tambatan di hati
Lembutkanlah hati untuk menerima yang lain
Keraskanlah hati hanya sebagai pondasi
Jangan buat bangunan yang kokoh tapi mati
Kehidupan perlu dibangun dengan keindahan harmoni
| 3:09:00 PM
Berpijak
Dimanakah seharusnya kaki berpijak?
Tiada satu katapun yang sanggup terucap
Dan keheningan pun segera menjawab
Saat tidak ada lagi yang mau saling bersahabat
Hanya kegelapan yang masih terus mengajak
Apakah masih bisa kaki ini berpijak?
Batu karang itu sepertinya telah dirusak
Terkikis oleh aliran-aliran air kemunafikan
Sanggupkah kubuat kerangka hati sebagai bahtera
Yang berlayar hingga terdampar di tempat-Mu berada
| 9:38:00 AM
Saturday
Berharga
Perumpamaan tentang kerajaan sorga yang digambarkan seperti orang yang menemukan harta terpendam di ladang. Orang itu menemukan harta di ladang itu, dan kemudian memendamkannya lagi, lalu menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu. Entah harta berharga seperti apa sehingga harus dipendam lagi dan harus membeli ladangnya juga bukan hartanya saja. Tidak dikatakan apakah orang itu seorang yang kaya, tapi dikatakan orang itu menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu, ini menggambarkan bahwa ladang itu adalah seluruh hidupnya, atau dengan kata lain ladang itu digambarkan sebagai hati kita. Hati kita begitu sensitif terhadap duniawi sehingga kita sepertinya tidak bisa mengontrolnya dengan baik, sehingga hati kita seperti bukan milik kita sendiri. Kita masih ingat perumpamaan ladang yang ditanami benih kebaikan namun selalu saja ada benih kejahatan yang ditabur iblis tanpa kita sadari. Mungkin kita merasa bahwa hati kita bukanlah harta yang berharga karena kita merasa hidup kita tidak berhasil mencapai sesuatu sehingga kita begitu letih untuk memperhatikannya lagi. Tapi betapa akan menjadi sangat bersukacitanya kita ketika kita tahu ada harta yang terpendam dalam ladang/hati kita, yang mampu merubah hidup kita menjadi sangat berharga di mata Tuhan. Tidakkah kita akan berusaha "membeli" hati kita dan menguasainya sedemikian rupa dan menjaganya agar tidak ada "pihak" lain yang akan merusaknya?
Sesuatu bisa menjadi berharga ketika kita sangat memerlukannya, dan juga sebaliknya sesuatu bisa menjadi tidak berharga ketika kita tidak begitu memerlukannya. Seperti perumpamaan tentang kerajaan sorga yang digambarkan seperti pedagang mutiara yang menemukan mutiara yang terindah, sehingga pedagang itu rela menjual mutiara seluruh miliknya hanya untuk memperoleh mutiara terindah itu. Kitapun pasti mempunyai banyak koleksi "mutiara-mutiara" yang dalam hidup kita, mungkin dalam bentuk hasil jerih payah kita, kesuksesan dan lain-lain. Entah apa kita rela melepaskan semua "mutiara-mutiara" itu hanya demi sebuah mutiara yang terindah. Seperti yang saya katakan diatas, apakah kita sangat memerlukannya sekarang, sehingga mutiara itu menjadi yang terindah dari yang lain? Ataukah kita masih berpikir bahwa masih ada banyak mutiara-mutiara lain yang mungkin nanti bisa menjadi mutiara terindah.
Berharga atau tidaknya hidup kita ditentukan oleh diri kita sendiri, yaitu saat kita mengetahui ada JC didalam kita dan kita sangat memerlukanNya.
| 8:45:00 PM
Thursday
Heroes
Musa adalah orang yang dipercayai Tuhan untuk menuntun bangsa Israel menuju ke Tanah Perjanjian. Tapi kemudian Musa tidak diijinkan masuk ke Tanah Perjanjian karena melakukan kesalahan. Terus terang saya agak kesulitan memahami bahwa Musa telah melakukan sesuatu kesalahan yang fatal (sehingga Tuhan tidak mau mengampuninya) dalam peristiwa mujizat munculnya mata air dari bebatuan di Meriba saat bangsa Israel mengeluhkan tidak adanya air. Disitu Tuhan menyatakan Musa tidak menghormati kekudusanNya di depan bangsa Israel.
Mari kita lihat peristiwa-peristiwa Musa sebelum melakukan kesalahan itu, yaitu saat dimana Musa merasa lelah dengan sungut-sungut orang Israel, lalu Musa pun mengeluh kepada Tuhan karena dirinya merasa seperti memelihara anak kecil. Musa sempat memohon agar jangan hanya pada dirinya saja yang menjadi perantara antara orang Israel dan Tuhan. Tuhan pun mengabulkannya dan membagi-bagikan Roh yang ada pada Musa kepada ke tujuh puluh orang tua Israel.
Setelah kejadian itu, mulailah bermunculan pemberontakan-pemberontakan dalam bangsa Israel. Mereka merasa tidak perlu lagi menentukan masa depan mereka melalui Musa. Tuhan pun marah dengan sikap mereka. Lalu Tuhan menegaskan bahwa Musa masih tetap sebagai pemimpin bangsa Israel dan bahkan Tuhan hendak membinasakan siapa saja yang memberontak. Namun Musa selalu memohon pengampunan agar Tuhan tidak melaksanakannya.
Musa yang begitu baik, selalu memohonkan pengampunan buat bangsa Israel, tapi tidak mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Mungkin bagi Tuhan ini bukan soal pengampunan, mungkin Tuhan memang harus "mengorbankan" Musa. Ya, mungkin saya terlalu ekstrem untuk mengatakan hal ini, karena saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Tapi ingat, bahwa Tuhan pun harus rela "mengorbankan" JC demi keselamatan umatNya. Demikian juga Musa yang harus dikorbankan Tuhan demi keutuhan bangsa Israel yang terlalu berani memberontak. Bisa dibayangkan bila bangsa Israel terus memberontak, siapakah yang akan bisa mencapai Tanah Perjanjian? Demi sesuatu yang besar, Tuhan harus rela mengorbankan yang dikasihiNya. Dan terbukti, saat Musa digantikan Yosua, bangsa Israel bisa bersatu meraih kemenangan demi kemenangan di Tanah Perjanjian. Bukankah Yosua masih muda untuk menjadi pemimpin? Tidakkah hal ini justru akan memancing lebih banyak pemberontakan? Jelas penghukuman Tuhan terhadap Musa itu telah meredam pemberontakan.
Entah bagaimana perasaannya Musa menjalani masa-masa kepemimpinannya setelah Tuhan menghukumnya. Tapi yang pasti Musa tidak memilih untuk memberontak terhadap Tuhan, melainkan tetap setia dalam tuntunan Tuhan. Meskipun begitu, saat-saat telah mendekati Tanah Perjanjian, Musa sempat memohon kembali pengampunan kepada Tuhan. Namun Tuhan berkata cukuplah jangan berbicara hal itu lagi. Ya, Tuhan tidak mau berbicara hal itu lagi karena Tuhan pun sedih karena demi sesuatu yang penting Tuhan tidak mengampuni Musa, apalagi Tuhan melihat ternyata Musa masih tetap mau setia kepadaNya. Sikap tetap setia Musa ini (setelah dihukum Tuhan), secara tidak langsung, mungkin juga telah menyadarkan orang Israel dari ingin memberontak menjadi semangat untuk bersatu. Tapi yang pasti Musa telah membuat dirinya menjadi pahlawan di mata Tuhan, pahlawan yang mau berkorban demi kemuliaan nama Tuhan. Musa telah mengorbankan kepentingan pribadinya.
Mungkin kita sekarang sedang "dikorbankan" Tuhan demi kemuliaan nama Tuhan, sama seperti Musa kita tidak tahu ada apa dan mengapa. Tapi ketika kita mengalami situasi yang tidak menyenangkan, yakinlah bahwa Tuhan pun tidak merasa nyaman juga jika harus membiarkan hal tersebut terjadi pada kita. Apakah kita siap untuk menjadi pahlawan bagi Tuhan? Berkorban bukanlah suatu kemampuan, namun kemauan. Teladanilah JC yang sebenarnya mempunyai kemampuan Ilahi, namun berkemauan melepaskannya demi menyelamatkan manusia. Di mata Tuhan, semua orang bisa menjadi berharga. Di mata Tuhan, you can changed from zero to hero.
| 12:55:00 PM
[stories]
[tag]
[contact]
[archive]
Friday
Kuk
Kuk adalah sebuah alat yang ditempatkan pada tengkuk leher kita untuk mengangkat atau menarik beban. Pada Perjanjian Lama, kita diibaratkan memakai kuk ini sehingga kita seperti seorang hamba.Dan karena kuk ini berisi dosa, maka kita dianggap sebagai hamba dosa. Tetapi terpujilah Tuhan yang dengan kekuatanNya mematahkan kuk ini, kita tidak lagi menjadi hamba dosa. Karena dosa sangatlah dibenci oleh Tuhan, dan hal inipun begitu tertanam di dalam hati kita semua orang yang percaya.
Sehingga kemudian kita mulai mengisi kehidupan kekristenan kita dengan firman Tuhan, dan kita pun merasa jijik dengan dosa. Hal ini sangatlah baik. Namun ada hal lain juga yang tidak bisa kita pungkiri yaitu kita masih merasa sulit untuk selalu melakukan firman Tuhan. Bahkan kita seperti sedang kembali memikul kuk yang berat, hanya kali ini bukan berisi dosa, tetapi firman Tuhan.
JC mengajak kita untuk belajar dariNya dalam memikul kuk yang berisi firman Tuhan ini, dengan berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan” (Matius 11:29). Namun kita tidak bisa belajar apa-apa dari perikop ini, karena kita tidak menemukan contoh dari apa yang JC katakan.
Marilah kita mencari teladan JC dalam memikul kuk yang berisi firman Tuhan ini. Tapi betapa kagetnya kita, saat kita sampai pada peristiwa JC berdoa di taman Getsemani, dimana JC mencoba meminta agar cawan penderitaan dilalukan daripadaNya. Mungkin dalam hati anda dan juga saya berpikir, mengapa JC berani menyuruh kita belajar dariNya, sementara Dia sendiri meminta agar tidak memikul kuk yang berisi firman Tuhan? Bukankah JC sebelum-sebelumnya begitu tegas membawa perintah Bapa?Ya begitu banyak pertanyaan di kepala kita, mungkin kita mulai berani berkata sungguh tidak pantas orang Kristen tidak mau melakukan firman Tuhan. Itu dosa!
Tanpa sadar, sebenarnya ketika kita sedang memikul kuk yang berisi firman Tuhan, kita itu seperti sedang memikul kuk yang berisi dosa. Kita begitu berbeban berat, karena kita begitu takut kalo sampai kita lepaskan kuk yang berisi firman Tuhan ini. Kita takut Tuhan akan marah dan tidak terbayangkan akibatnya. Kita memandang Tuhan sama seperti Tuhan yang marah besar terhadap dosa. Bukankah kuk yang kita pikul berisi firman Tuhan? Bukan dosa.
Ingat JC berkata belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Bukan karena Aku penuh kemarahan ataupun kemurkaan. Itulah sebabnya ketika JC merasa tidak kuat dan mau mati rasanya (peristiwa Getsemani) JC pun memohon agar dilalukan dari cawan penderitaan. Ini bukan soal tidak pantas, tapi ini berbicara Tuhan yang tidak sama saat marah terhadap dosa, tapi Tuhan yang lemah lembut yang mau mendengarkan keluhan dari yang memikul kuk yang berisi firman Tuhan.
JC kemudian berdoa terus melampiaskan semuanya, hingga berkeringat darah. Dan setelah berdoa, entah berapa lama kemudian, JC bangkit dan penuh keyakinan mau memikul kuk yang berisi firman Tuhan. Saya tidak tahu apa yang terjadi, dalam Lukas 22:43 disebutkan malaikat datang untuk memberikan kekuatan. Tapi yang jelas JC kemudian seperti memperoleh apa yang dikatakan sebagai “jiwamu akan mendapatkan kelegaan”. Matius 11:30, sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanku pun ringan.
Belajarlah dari JC, sosok yang kita anggap sempurna, namun Dia tidak segan-segan berkata tidak bisa jika memang tidak bisa kepada Bapa. Apalagi kita yang tidak sempurna. Matius 11:28 Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu
| 9:32:00 AM
Thursday
Renovasi
Suara bising seperti tak pernah berhenti
Martil besi besar dibenturkan ke dinding
Bukan untuk merobohkan, apalagi menyakiti
Sekedar mencari ruang tambatan di hati
Lembutkanlah hati untuk menerima yang lain
Keraskanlah hati hanya sebagai pondasi
Jangan buat bangunan yang kokoh tapi mati
Kehidupan perlu dibangun dengan keindahan harmoni
| 3:09:00 PM
Berpijak
Dimanakah seharusnya kaki berpijak?
Tiada satu katapun yang sanggup terucap
Dan keheningan pun segera menjawab
Saat tidak ada lagi yang mau saling bersahabat
Hanya kegelapan yang masih terus mengajak
Apakah masih bisa kaki ini berpijak?
Batu karang itu sepertinya telah dirusak
Terkikis oleh aliran-aliran air kemunafikan
Sanggupkah kubuat kerangka hati sebagai bahtera
Yang berlayar hingga terdampar di tempat-Mu berada
| 9:38:00 AM
Saturday
Berharga
Perumpamaan tentang kerajaan sorga yang digambarkan seperti orang yang menemukan harta terpendam di ladang. Orang itu menemukan harta di ladang itu, dan kemudian memendamkannya lagi, lalu menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu. Entah harta berharga seperti apa sehingga harus dipendam lagi dan harus membeli ladangnya juga bukan hartanya saja. Tidak dikatakan apakah orang itu seorang yang kaya, tapi dikatakan orang itu menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu, ini menggambarkan bahwa ladang itu adalah seluruh hidupnya, atau dengan kata lain ladang itu digambarkan sebagai hati kita. Hati kita begitu sensitif terhadap duniawi sehingga kita sepertinya tidak bisa mengontrolnya dengan baik, sehingga hati kita seperti bukan milik kita sendiri. Kita masih ingat perumpamaan ladang yang ditanami benih kebaikan namun selalu saja ada benih kejahatan yang ditabur iblis tanpa kita sadari. Mungkin kita merasa bahwa hati kita bukanlah harta yang berharga karena kita merasa hidup kita tidak berhasil mencapai sesuatu sehingga kita begitu letih untuk memperhatikannya lagi. Tapi betapa akan menjadi sangat bersukacitanya kita ketika kita tahu ada harta yang terpendam dalam ladang/hati kita, yang mampu merubah hidup kita menjadi sangat berharga di mata Tuhan. Tidakkah kita akan berusaha "membeli" hati kita dan menguasainya sedemikian rupa dan menjaganya agar tidak ada "pihak" lain yang akan merusaknya?
Sesuatu bisa menjadi berharga ketika kita sangat memerlukannya, dan juga sebaliknya sesuatu bisa menjadi tidak berharga ketika kita tidak begitu memerlukannya. Seperti perumpamaan tentang kerajaan sorga yang digambarkan seperti pedagang mutiara yang menemukan mutiara yang terindah, sehingga pedagang itu rela menjual mutiara seluruh miliknya hanya untuk memperoleh mutiara terindah itu. Kitapun pasti mempunyai banyak koleksi "mutiara-mutiara" yang dalam hidup kita, mungkin dalam bentuk hasil jerih payah kita, kesuksesan dan lain-lain. Entah apa kita rela melepaskan semua "mutiara-mutiara" itu hanya demi sebuah mutiara yang terindah. Seperti yang saya katakan diatas, apakah kita sangat memerlukannya sekarang, sehingga mutiara itu menjadi yang terindah dari yang lain? Ataukah kita masih berpikir bahwa masih ada banyak mutiara-mutiara lain yang mungkin nanti bisa menjadi mutiara terindah.
Berharga atau tidaknya hidup kita ditentukan oleh diri kita sendiri, yaitu saat kita mengetahui ada JC didalam kita dan kita sangat memerlukanNya.
| 8:45:00 PM
Thursday
Heroes
Musa adalah orang yang dipercayai Tuhan untuk menuntun bangsa Israel menuju ke Tanah Perjanjian. Tapi kemudian Musa tidak diijinkan masuk ke Tanah Perjanjian karena melakukan kesalahan. Terus terang saya agak kesulitan memahami bahwa Musa telah melakukan sesuatu kesalahan yang fatal (sehingga Tuhan tidak mau mengampuninya) dalam peristiwa mujizat munculnya mata air dari bebatuan di Meriba saat bangsa Israel mengeluhkan tidak adanya air. Disitu Tuhan menyatakan Musa tidak menghormati kekudusanNya di depan bangsa Israel.
Mari kita lihat peristiwa-peristiwa Musa sebelum melakukan kesalahan itu, yaitu saat dimana Musa merasa lelah dengan sungut-sungut orang Israel, lalu Musa pun mengeluh kepada Tuhan karena dirinya merasa seperti memelihara anak kecil. Musa sempat memohon agar jangan hanya pada dirinya saja yang menjadi perantara antara orang Israel dan Tuhan. Tuhan pun mengabulkannya dan membagi-bagikan Roh yang ada pada Musa kepada ke tujuh puluh orang tua Israel.
Setelah kejadian itu, mulailah bermunculan pemberontakan-pemberontakan dalam bangsa Israel. Mereka merasa tidak perlu lagi menentukan masa depan mereka melalui Musa. Tuhan pun marah dengan sikap mereka. Lalu Tuhan menegaskan bahwa Musa masih tetap sebagai pemimpin bangsa Israel dan bahkan Tuhan hendak membinasakan siapa saja yang memberontak. Namun Musa selalu memohon pengampunan agar Tuhan tidak melaksanakannya.
Musa yang begitu baik, selalu memohonkan pengampunan buat bangsa Israel, tapi tidak mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Mungkin bagi Tuhan ini bukan soal pengampunan, mungkin Tuhan memang harus "mengorbankan" Musa. Ya, mungkin saya terlalu ekstrem untuk mengatakan hal ini, karena saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Tapi ingat, bahwa Tuhan pun harus rela "mengorbankan" JC demi keselamatan umatNya. Demikian juga Musa yang harus dikorbankan Tuhan demi keutuhan bangsa Israel yang terlalu berani memberontak. Bisa dibayangkan bila bangsa Israel terus memberontak, siapakah yang akan bisa mencapai Tanah Perjanjian? Demi sesuatu yang besar, Tuhan harus rela mengorbankan yang dikasihiNya. Dan terbukti, saat Musa digantikan Yosua, bangsa Israel bisa bersatu meraih kemenangan demi kemenangan di Tanah Perjanjian. Bukankah Yosua masih muda untuk menjadi pemimpin? Tidakkah hal ini justru akan memancing lebih banyak pemberontakan? Jelas penghukuman Tuhan terhadap Musa itu telah meredam pemberontakan.
Entah bagaimana perasaannya Musa menjalani masa-masa kepemimpinannya setelah Tuhan menghukumnya. Tapi yang pasti Musa tidak memilih untuk memberontak terhadap Tuhan, melainkan tetap setia dalam tuntunan Tuhan. Meskipun begitu, saat-saat telah mendekati Tanah Perjanjian, Musa sempat memohon kembali pengampunan kepada Tuhan. Namun Tuhan berkata cukuplah jangan berbicara hal itu lagi. Ya, Tuhan tidak mau berbicara hal itu lagi karena Tuhan pun sedih karena demi sesuatu yang penting Tuhan tidak mengampuni Musa, apalagi Tuhan melihat ternyata Musa masih tetap mau setia kepadaNya. Sikap tetap setia Musa ini (setelah dihukum Tuhan), secara tidak langsung, mungkin juga telah menyadarkan orang Israel dari ingin memberontak menjadi semangat untuk bersatu. Tapi yang pasti Musa telah membuat dirinya menjadi pahlawan di mata Tuhan, pahlawan yang mau berkorban demi kemuliaan nama Tuhan. Musa telah mengorbankan kepentingan pribadinya.
Mungkin kita sekarang sedang "dikorbankan" Tuhan demi kemuliaan nama Tuhan, sama seperti Musa kita tidak tahu ada apa dan mengapa. Tapi ketika kita mengalami situasi yang tidak menyenangkan, yakinlah bahwa Tuhan pun tidak merasa nyaman juga jika harus membiarkan hal tersebut terjadi pada kita. Apakah kita siap untuk menjadi pahlawan bagi Tuhan? Berkorban bukanlah suatu kemampuan, namun kemauan. Teladanilah JC yang sebenarnya mempunyai kemampuan Ilahi, namun berkemauan melepaskannya demi menyelamatkan manusia. Di mata Tuhan, semua orang bisa menjadi berharga. Di mata Tuhan, you can changed from zero to hero.
| 12:55:00 PM